Dari Meja Putih di Jakarta: Awal Tatap Muka DIGI-IN, 9 Mei 2011
Siang itu sederhana. 9 Mei 2011, di Jakarta, tanpa panggung, tanpa banner, apalagi rundown acara yang rapi. Yang ada hanya meja putih, sebuah laptop terbuka, gelas minuman cepat saji, dan beberapa Digivice yang diletakkan begitu saja. Namun justru di situlah semuanya bermula: gathering tatap muka pertama DIGI-IN. Mereka yang hadir adalah generasi kelahiran akhir 80-an hingga 90-an, anak-anak yang tumbuh bersama TV tabung, VCD bajakan, dan suara opening Butter-Fly yang dulu terasa seperti lagu wajib sepulang sekolah. Kini, sebagian dari mereka telah menjadi ayah, calon ayah, atau “bapak-bapak terpilih” di Indonesia yang masih menyimpan satu ruang kecil dalam hidupnya untuk dunia digital bernama Digimon. Jumlahnya belum banyak. Masih segelintir orang. Tapi justru itu yang membuat pertemuan 9 Mei 2011 ini terasa intim dan jujur. Tidak semua membawa koleksi lengkap. Ada yang hanya membawa satu Digivice, ada yang dua. Sebagian meletakkannya di atas meja dengan hati-hati, seolah ...